10 Urutan Haji yang Benar, Panduan Tata Cara Haji Lengkap

Urutan Haji yang benar (2)

Urutan haji yang benar – Ibadah haji merupakan ibadah yang memiliki keutamaan luar biasa, utamanya ketika dilaksanakan dengan benar. Maka dari itu, setiap muslim yang ingin melaksanakannya perlu persiapan dengan matang. Bukan hanya secara finansial, tetapi juga dalam hal bekal ilmu untuk melaksanakannya.

Jemaah tidak boleh hanya mengandalkan arahan petugas atau pembimbing, tanpa memahami alur ibadahnya sendiri. Karena jika terdapat tahapan yang dilewati atau tidak dilakukan dengan benar, dapat membuat hajinya tidak sempurna bahkan tidak sah. Lalu, bagaimana sebenarnya urutan haji yang benar menurut syariat?

Dalam artikel berikut akan dibahas secara lengkap tentang urutan ibadah haji yang benar dan sesuai tuntunan. Simak penjelasannya hingga selesai.

Urutan Tata Cara Haji yang Benar

Merujuk pada laman BPKH dan sumber lainnya, berikut urutan haji yang benar dan lengkap beserta penjelasannya yang penting untuk diperhatikan calon jemaah.

1. Ihram dari Miqat

Ihram dari miqat adalah langkah pertama dalam ibadah haji. Pada tahap ini, jemaah mulai berniat haji di tempat yang telah ditetapkan (miqat), misalnya Dzulhulaifah/Bir Ali bagi jemaah dari Indonesia melalui Madinah. Ihram berarti memasuki keadaan suci dan terikat dengan aturan ibadah haji.

Sebelum berniat, jemaah biasanya melakukan mandi sunnah ihram, memakai pakaian ihram (dua kain putih bagi laki-laki; pakaian syar’i bagi perempuan), lalu shalat sunnah ihram jika memungkinkan. Setelah itu, jemaah mengucapkan niat haji dan mulai membaca talbiyah “Labbaik Allahumma labbaik…”.

Sejak niat diucapkan, jemaah resmi berada dalam kondisi ihram dan harus menjaga larangan ihram, seperti tidak menggunakan parfum, tidak memotong kuku atau rambut, serta tidak melakukan hubungan suami istri. Tahap ini menjadi awal dimulainya ibadah haji secara resmi.

2. Wukuf di Arafah (Puncak Ibadah Haji)

Wukuf di Arafah merupakan bagian inti dari seluruh rangkaian ibadah haji. Tanpa wukuf, ibadah haji tidak sah. Wukuf dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah dan dilakukan setelah tergelincirnya matahari (waktu Dzuhur) hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Pada saat wukuf, kegiatan yang diamalkan jemaah yaitu doa, dzikir, dan istighfar sebanyak mungkin, karena Arafah adalah tempat dikabulkannya doa-doa.

Baca Juga: Larangan Haji: Hindari 16 Hal Ini Agar Haji Anda Sah dan Mabrur

3. Mabit di Muzdalifah

Setelah wukuf, jemaah bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit atau bermalam secara singkat. Tujuannya adalah beristirahat dan mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jumrah di Mina. Waktu mabit berlangsung mulai dari tengah malam hingga sebelum Subuh. Di sini jemaah juga dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan doa.

4. Melontar Jumrah Aqabah

Pagi hari tanggal 10 Dzulhijjah, jemaah menuju Mina untuk melakukan pelontaran pertama, Jumrah Aqabah. Jumrah Aqabah adalah tugu terbesar yang menjadi simbol penolakan terhadap godaan setan. Jemaah melempar tujuh batu sambil membaca “Bismillahi Allahu Akbar”. Pelontaran ini menandai perpindahan jemaah menuju tahap berikutnya.

5. Tahallul Awal

Setelah melontar jumrah, jemaah melakukan tahallul awal, yaitu mencukur atau memotong sebagian rambut. Bagi laki-laki, lebih utama mencukur habis (halq), sedangkan perempuan cukup memotong ujung rambut sepanjang satu ruas jari. Dengan tahallul awal, sebagian larangan ihram sudah boleh dilakukan, kecuali hubungan suami istri.

6. Tawaf Ifadhah

Tawaf Ifadhah adalah tawaf wajib yang dilakukan di Masjidil Haram setelah tahallul awal. Jemaah melakukan tujuh kali putaran mengelilingi Ka’bah, dimulai dari posisi Hajar Aswad. Tawaf ini menunjukkan ketundukan kepada Allah dan merupakan salah satu rukun utama ibadah haji. Setelah tawaf, jemaah melakukan shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim (jika memungkinkan).

Baca Juga: Tidak Semua Haji Diterima: Ini 3 Ciri Ciri Haji Mabrur

7. Sa’i antara Shafa dan Marwah

Sa’i merupakan salah satu rukun haji yang dilakukan setelah tawaf ifadhah. Ibadah ini dilakukan dengan berjalan cepat atau berlari kecil sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah yang berada di dalam Masjidil Haram. Hikmah dari Sa’i ini yaitu mengenang perjuangan Siti Hajar saat mencari air untuk Nabi Ismail.

Sebelum memulai, jemaah harus dalam keadaan suci dan tetap mengenakan pakaian ihram. Pelaksanaan sa’i dimulai dengan menghadap ke Ka’bah dari bukit Shafa untuk membaca niat, lalu berjalan menuju Marwah. Jarak antara kedua bukit sekitar 450 meter, dan perjalanan bolak-balik ini dihitung tujuh kali sesuai urutan, Shafa ke Marwah dihitung satu putaran, lalu Marwah ke Shafa sebagai putaran berikutnya.

8. Tahallul Kedua

Setelah tawaf ifadhah dan sa’i, jemaah melakukan tahallul kedua. Pada tahap ini, seluruh larangan ihram menjadi boleh kembali, termasuk hubungan suami istri. Ini menandai selesainya proses utama dalam ibadah haji.

9. Mabit di Mina dan Melontar Tiga Jumrah

Pada tanggal 11–13 Dzulhijjah (hari Tasyrik), jemaah kembali menginap (mabit) di Mina. Hal ini guna melakukan pelontaran ketiga jumrah setiap hari, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah.

Setiap jumrah dilontar 7 batu kerikil dengan urutan yang benar. Setelah selesai, jemaah kembali ke tempat penginapan dan memperbanyak ibadah.

10. Tawaf Wada’

Sebelum meninggalkan Makkah, jemaah wajib melakukan Tawaf Wada’, yaitu taawaf perpisahan. Tawaf ini menunjukkan bahwa jemaah meninggalkan Baitullah dalam keadaan yang penuh hormat dan kenangan spiritual yang mendalam. Setelah tawaf wada’, jamaah tidak melakukan aktivitas lain di Masjidil Haram, kecuali langsung bersiap untuk pulang.

Baca Juga: Macam-Macam Haji dan Pengertiannya (Ifrad, Tamattu’, dan Qiran)

Kesimpulan

Melaksanakan ibadah haji tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik dan finansial, tetapi juga pemahaman yang benar tentang tata cara pelaksanaannya. Ada 10 urutan haji yang wajib dipahami, yaitu mulai dari ihram di miqat, wukuf di Arafah sebagai puncak ibadah, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, tahallul, tawaf ifadhah, sa’i, hingga tawaf wada’ sebelum kembali ke tanah air.

Setiap tahapan memiliki aturan yang harus dijalankan sesuai tuntunan syariat. Jika salah satu ditinggalkan, bahkan jika hal tersebut merupakan rukun, maka ibadah haji bisa menjadi tidak sah.

Dengan memahami urutan ibadah haji yang benar sebelum keberangkatan, jemaah diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang, khusyuk dan lancar. Bimbingan dari pembimbing atau petugas akan semakin mudah diikuti jika jemaah sudah mengetahui alurnya. Semoga Allah memudahkan setiap langkah ibadah haji dan menjadikannya sebagai haji yang mabrur.

Raih Haji Mabrur Bersama Saudaraku

Menunaikan haji membutuhkan bimbingan yang tepat agar setiap tahap ibadah dijalankan dengan benar. Bersama Saudaraku Umroh dan Haji, Anda tidak hanya diberangkatkan, tetapi juga dibersamai oleh pembimbing berpengalaman mulai dari persiapan, keberangkatan hingga kembali ke tanah air.

Saudaraku telah dipercaya sejak tahun 2002, dengan layanan profesional, fasilitas nyaman, dan pembinaan ibadah yang sesuai sunnah. Dalam hal legalitas, Saudaraku sudah memiliki izin Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) No. 13 Tahun 2022. Percayakan perjalanan ibadah haji Anda bersama Saudaraku, insya allah akan lebih tenang, terarah, dan mabrur.

Banner Konsultasi Umroh & Haji

Bagikan:

Artikel Terbaru

Klaim Promo Terbaru